Sampai saat ini cara berpikir seseorang untuk menghadapi segala hal ada dua yaitu optimistis dan pesimistis. Lalu apa itu optimistis dan pesimistis? Optimistis adalah “harapan” yang selalu mengarah pada kebaikan, selalu berpengharapan, berpandangan baik dalam menghadapi segala hal sedangkan pesimistis merupakan kebalikan dari optimistis yaitu pandangan yang selalu mengarah pada keburukan. Yang jadi permasalahan adalah apa yang kita harus pilih? Optimistis atau Pesimistis? Siapa yang mau kena keburukan, tentu tidak ada yang mau bukan? Oleh karena itu, banyak masyarakat terutama belia memilih berpikiran optimistis. Sampai-sampai banyak orang yang melupakan pesimistis. Sebenarnya sifat pesimistis pada diri kita harus ada. Kenapa? Karena banyak sesuatu hal yang kita pikirkan secara dua arah yaitu baik dan buruk. Saya akan ambil contoh saja yang sedang marak-maraknya.
Misal, anak kelas XII bernama “ABC” yang sedang menghadapi UAN. ABC ini selalu berpikir “ah, saya pasti lulus”. Saat ada seseorang berbicara “Aduh, gimana kalo enggak lulus?”. “Hush, jangan ngomong gitu” jawab ABC. ABC adalah salah satu orang yang berpikir optimistis tanpa menghiraukan pesimistis. Saat pemberitahuan kelulusan ternyata ABC tidak lulus. Karena ABC tidak pernah memikirkan apa yang akan dia lakukan “jika” dia tidak lulus dia tanpa pikir panjang hampir membunuh dirinya sendiri karena stress, shock.
Dari contoh diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa kita harus selalu berpikir dua arah yaitu optimistis dan pesimistis. Bila ABC sudah memikirkan kalau dia tidak lulus harus ngapain. Dia tidak akan melakukan hal nekat bunuh diri. Berbeda dengan temannya “DEF” walaupun dia tidak lulus dia tetap tidak melakukan hal bodoh tersebut. Kenapa? Karena DEF berpikir kalau dia lulus (Optimistis) dia akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi sedangkan kalau dia tidak lulus dia akan mengulangnya lagi (mau apa lagi?). Kalau nangis sih tindakan yang wajar saja. Kalau bunuh diri merupakan tindakan yang sangat tidak wajar.
Kesimpulannya adalah kita sebagai manusia yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, lusa, minggu depan, dsb harus selalu berpikir dua arah yaitu optimistis dan pesimistis. Karena keberadaan sifat tersebut sangatlah penting. Jangan selalu berpikir optimis, bagaimana kalau hasilnya negatif? Bagaimana? So, “Negative Thinking, Why Not?”