Home > Cerita > Poè Hèjo {Part 2}

Poè Hèjo {Part 2}

Untuk tulisan ini  berlaku : ©2008 Taruma Sakti Megariansyah. Dilarang untuk mencetak tulisan ini dengan alasan apapun dan/atau menyebarkannya dengan alasan apapun.

Cerita sebelumnya (Poè Hèjo {Part 1}) :

“…. Langsung saja kami bersiap-siap. Hwah! Karena panitia memburu-buru kami. Kami pun sempat kewalahan ….”

Note: Cerita pada Part 2 lebih panjang daripada Part 1. Jadi, baca baik-baik yah. Karena, kelewat satu bagian. Hilang deh, ceritanya. J

~Sabtu, 22 November 2008~

Kami membereskan sleeping bag yang sudah kami pakai. Yah, karena kami diburu-buru oleh panitia jadinya ada yang gak karuan deh simpen sleeping bagnya. Setelah, beres kami disuruh keluar tenda dan berbaris. “Nunduk!” ucap panitia. Biasalah. Pokoknya, kami tuh riweuh. Sampai-sampai jas hujan yang dipegang gak tahu punya siapa. Yah, saya pikir enggak bakal hilang kemana-mana. Palingan ketuker atau ditemen satu kelompok. Setelah barang-barang sudah dibereskan dan sudah disimpan. Kami menuju SPOT. Jalan yang ditempuh sama. Karena tetap menggunakan rute yang sama. Sesampainya di SPOT, kami langsung berolahraga.

>.< Waduh, udah lupa nih bagian sini-sininya. Apa gara-gara bagian ini kurang berkesan yah? >.<

Catat kalimat di setiap POS!

Saatnya waktu bina lingkungan! Tiap kelompok diberi peta buta daerah desa sukawana. Di peta terdapat bilangan 1 sampai 12. Kami disuruh untuk mencatat kalimat disetiap POS. Dari pos satu sampai dua belas. Kami sempat kebingungan pada POS 9 dan 10. Yah, memang benar-benar peta buta. Jadinya, kami bingung. Akan tetapi, akhirnya, kami menyelesaikan semuanya. Dan kami kembali ke SPOT. Oh iyah, kami ditemani oleh mentor (duh, gak tau namanya). Sesampainya di SPOT, kami menunggu kelompok lain yang belum usai mencatat di 12 titik tersebut.

Rakit tempat sampah. Haus? Ya, Minum!

Kami disuruh membentuk lingkaran per kelompok. Tiap-tiap kelompok diberikan tempat sampah yang masih perlu dirakit. Yah, merakitnya sih gampang. Dikira saya, kami disuruh menghias. Dan setelah itu, kami diberi minuman. Minumannya bukan minuman biasa melainkan bruto wali. Yang rasanya pahit. Sebelumnya sih sudah pernah merasakannya. Akan tetapi, yang ini terlihat lebih pekat. Hueekk! Yah, untungnya, semuanya kebagian. Yah, pokoknya pahit abis!

Menuju titik 10!

Kami disuruh menuju titik tiap kelompok. Maksudnya, kalau kelompok 10 berarti ketitik 10. Sesampainya di titik 10, kami mengondisikan tong sampah tersebut agar bisa digunakan. Sayangnya, landasannya tidak rata. Jadinya, kami agak kesulitan untuk menyimpan tempat sampah tersebut. Akan tetapi, akhirnya, kami ganjel dengan batu-batu yang ada disekitar sana. Setelah menyimpannya, kami disuruh berisitirahat dulu. Sambil menunggu, kami membahas tentang kalimat di titik 10. Kalau enggak salah sih kalimatnya tuh “Jadikanlah hujan sesuatu yang bermanfaat bukan bencana”. Dan saling share ajah sama mentor. Sebelumnya, kami diberi pengarahan tentang 4 prinsip. 4 Prinsip tersebut adalah one taste, struggle, sacrifice, role. Penjelasannya akan diberikan pas games 4 prinsip.

One Taste!

Setelah beristirahat di titik 10, kami langsung menuju SPOT. Mulai sekarang kami tidak sendirian. Sekarang, kelompok kami digabung dengan kelompok lainnya yaitu kelompok 11 dan 12. Kami (mulai sekarang, yang saya maksud adalah kelompok 10, 11 dan 12) mulai rintangan one taste. One Taste berarti Satu Rasa. Rintangannya adalah mengumpulkan batu-batu ke lingkaran kecil. Mungkin terlihat mudah bukan? Yup, memang mudah. Kami langsung mengumpulkan batu yang ada disekitar kita dan memasukkan ke lingkaran tersebut. Akan tetapi, terdapat batu besar. Batu besar tidak dapat dibawa oleh satu orang. Setelah kami kumpulkan. Ternyata ada kesalahan dalam menyelesaikan rintangan ini. Kesalahan tersebut adalah batu besar hanya diangkat beberapa orang dan tidak dirasakan oleh orang yang tidak mengangkatnya. Kalau dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari adalah jika ada masalah yang berat (batu besar) dalam suatu komunitas (kami) selayaknya setiap anggota dalam komunitas tersebut merasakan apa yang dihadapi oleh komunitas tersebut. Permasalahan ini merupakan permasalahan bersama bukan perseorangan. Jadinya, kami disuruh dikembalikan batu-batu tersebut ke tempat semula dan mengulang rintangan itu. Pada saat mengangkat batu besar tersebut, kami saling mengoper batu besar itu. Setiap individu dalam kami merasakan bagaimana membawa batu besar yang berat tersebut. Setelah menyelesaikan rintangan tersebut kami menuju tempat berikutnya.

Struggle!

Struggle yang berarti berjuang merupakan inti dari rintangan yang akan kami mainkan. Rintanganannya adalah menarik bendera yang ada. Letaknya cukup jauh! Ditambah medan yang kurang mudah dilewati (namanya juga kebun teh). Waktu yang diberikan adalah 10 menit. Syarat di rintangan ini adalah tidak boleh terputus. Artinya, kami harus membuat rantai. Dan tentunya tidak boleh sampai putus. Jika putus, maka harus diulang lagi dari awal. Dan rintanganpun dimulai. Ternyata eh ternyata, kami tidak tepat waktu. Yah, artinya kita gagal dalam rintangan ini. Yah, dan kami pun membahas kenapa kami bisa gagal. Istilah lainnya mah evaluasi. Jadi, inti dari rintangan ini adalah kami harus berjuang jika dalam menghadapi suatu masalah. Bingungnya game ini adalah kami tidak mengetahui waktu. Andaikan salah satu diantara kami ada yang membawa jam. Mungkin, bisa diatur juga waktunya. Tapi, kupikir-pikir ini bukan masalah waktu. Akan tetapi, semangat kami menghadapi suatu ujian yang harus dilalui bersama. Rintangan ini menguras tenaga! Saya dah ngos-ngosan. Perjalanan pun berlanjut. Berjalan disana cukup enak. SEJUK! Yah, walaupun kami terpanggang oleh teriknya matahari. Kami sempat salah jalan. Sambil jalan menuju ke tempat tujuan kami menyanyikan sebuah lagu. Hmm, lagunya apa yah? Entahlah. Saya fokus ajah sama jalanan.

Sacrifice!

Rintangan kali ini adalah mendaki bukit. Sayangnya, kami tidak memiliki alat bantu. 5 orang diantara kami harus berkorban (sacrifice) untuk mengambilkan alat bantu untuk mendaki bukit tersebut. Yah, singkat cerita, kami sudah berada diatas semua. Sacrifice yang berarti berkorban. Dalam suatu komunitas selayaknya kita untuk berkorban demi kelancaran program sebuah komunitas. Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan menuju rintangan yang terakhir yaitu Role.

Role!

Rintangan terakhir adalah mengalirkan air dari satu titik ke ember melalui pipa dan potongan aqua. Lalu dimana role yang dimaksud? Role berarti peran. Maksud dari prinsip terakhir ini adalah setiap individu dalam sebuah komunitas memiliki peran. Jika kita analogikan (ikutin gaya bang “analogi”), ada sebuah sepeda memiliki lampu. Lampu tersebut kita lepas. Sepeda tetap masih berfungsi. Bagaimana jika yang dilepas adalah rantai sepeda? Sepeda tak bisa berfungsi. Anggaplah individu dalam komunitas tersebut adalah sebuah rantai. Jika salah satu menghilang, sebuah komunitas tak dapat berjalan. Saya lihat semua individu mempunyai peran dalam rintangan terakhir ini. Bagian menambal bolong pipa sudah ada, dan bagian yang meneruskan aliran menuju emberpun ada. Dan berhasil deh. Saya ingin menambahkan tentang role. Sebenarnya, memang benar setiap individu dalam sebuah komunitas harus mempunyai peran aktif. Yang suka menjadi sebuah permasalahan, apa peran itu? Banyak yang dalam komunitas menganggap sebagai peran pelengkap. Yang berarti jika individu tersebut menghilang, sistem masih bisa berjalan. Yah, mudah-mudahan jangan sampai terjadi lah. Walaupun, saya amati sekarang, banyak kasus yang seperti itu. Setelah menghadapi 4 rintangan tersebut kami kembali ke SPOT. Kami pun menunggu tim-tim lainnya menuju ke SPOT. Sambil menunggu, kami beristirahat.

Airnya jangan sampai tumpah!

Setelah berkumpul semua. Seluruh kelompok dikumpulkan ke lapangan yang satu lagi. Disana kami membentuk rantai berhuruf C. Permainannya adalah mengoper segelas air dan airnya jangan sampai tumpah. Awalnya, sering tumpah tuh air. Akhirnya, tetep saja tumpah. (hehehe). Sampai akhirnya, kami berhasil mengoper dari titik awal ke titik akhir. Ohiyah, maksimal 15 menit. Yah, singkat cerita, kami berhasil walaupun ada yang tertumpah tapi kami tetap struggle. Setiap orang mempunyai role. Dan semuanya pada one taste. Sampai harus sacrifice menunggu giliran. Setelah berakhir, kami menuju ke tempat berikutnya yaitu Situ Lembang. Kami menggunakan truk, sayangnya, bukan truk tentara. Selama perjalanan, saya benci dengan mobil yang memimpin didepan. Tak henti-hentinya menimbulkan polusi.

Welcome to Situ Lembang!

Sesampainya disana kami dikumpulkan disuatu lokasi. Disana kami makan dulu. Dan menunggu lokasi berikut disiapkan. Kami menuju ke lokasi berikutnya setelah menghabiskan makanan kami. Jalanan cukup menanjak. Harus berhati-hati. Sesampainya diatas, kami menuju ke lokasi pembuatan lagu angkatan 2008!

Lagu angkatan 2008!

Kami diberikan obor dan disuruh membuat lagu angkatan. Disini yang mimpin Mario “Poh”. Lokasi disana cukup dingin. Mengingat kejadian ditenda, saya langsung mengeluarkan peralatan untuk menghangatkan diri. Bajuku jadi lapis 3. Pakai sarung tangan dan kupluk. Untungnya, saya diantara mereka bukan mengantarai mereka. Maksudnya saya didalam kerumunan. Jadi, cukup hangat. Disini yang berperan membuat basic note yaitu Alto. Singkat cerita, kami menghasilkan lagu angkatan 2008 (klik disini).

Langkah awal Sipil ’08!

Kami menuju lokasi berikutnya sambil menyanyikan lagu angkatan kami. Mungkin gara-gara pengaruh kecepatan suara, jadinya terlihat gak kompak. Sesampainya ditempat tujuan. Kami disekelilingi oleh masyarakat sipil. Dan kami terpisah menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh pagar. Kami ditanya “2008 ada berapa?” Dengan membawa bekal dari sosialisasi jawabnya “SATU” dong. Lalu, kami menyanyikan lagu angkatan 2008 beberapa kali. Sampai terjadi kerusuhan besar. Yah, bagaimana tidak? Walaupun ini bagian dari skenario. cowok lebih banyak, jadinya runyam deh. Terus ajah nyanyi. Setelah itu api unggun dinyalakan. Istilahnya api ini merupakan api sipil 08 yang diobor tuh. Setelah itu, kembang api muncul deh. Hmm, untungnya, gak terjadi apa-apa. Hebat lah, perencanaannya. Kembang apinya lumayanlah. Dan kamipun akhirnya diterima oleh masyarakat. Inisiasi kami disaksikan oleh kota dimalam hari. Sangat menarik. Setelah itu, kami berkumpul dulu. Duduk, duduk. Yah, sambutan dari ketua angkatan 2007, 2006, 2005. Dan merekapun menyanyikan lagu angkatan mereka. Interesting! Yah, akhirnya, acarapun berakhir. Kamipun menuju tenda yang sudah disiapkan. Tenda sekarang lebih besar dan luas. Akhirnya, kami tidur. Selang beberapa menit atau jam yah? Kami dibangunkan.

Makan kambing bakar!

Ternyata kami dibangunkan untuk makan kambing bakar. Saya sih, gak ngerasain apa-apa. L. Tapi, tak apalah toh saya juga lagi gak minat. Dingin berat tuh disana. Setelah makan-makan selesai kami pun tidur lagi. Dan keesokan harinya kami …

~Bersambung~

Next Part (available at 15 December 2008) : Waktunya pulang dan bebersih. Selamat datang kader-kader himpunan.

  • Share/Bookmark

Related posts:

  1. Poè Hèjo {Part 1}
  2. Lagu Angkatan 2008 Teknik Sipil UNPAR
Categories: Cerita Tags: , , , ,
  1. December 13th, 2008 at 11:52 | #1

    halo…salam kenal
    numpang lewat

    [Reply]

  2. December 13th, 2008 at 16:54 | #2

    keduaX

    masih bersambung ya???

    [Reply]

  3. December 14th, 2008 at 05:35 | #3

    moga di bagian ke tiga gak dapet jatah broto wali lagi … semangat !!

    [Reply]

  1. No trackbacks yet.

Zona MIKIR is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache