Untuk tulisan ini  berlaku : ©2008 Taruma Sakti Megariansyah. Dilarang untuk mencetak tulisan ini dengan alasan apapun dan/atau menyebarkannya dengan alasan apapun.

Cerita sebelumnya (Poè Hèjo {Part 2}):

” … Dingin berat tuh disana. Setelah makan-makan selesai kami pun tidur lagi. Dan keesokan harinya kami … “

~Minggu, 23 November 2008~

Kami dibangunkan untuk segera siap-siap kembali ke kampus. Sekarang sih gak ada yang teriak-teriak. Pas keluar dari tenda. Huiiihh! Antara sejuk dan dingin kecampur. Untungnya, jaket + sweater sudah melekat dibadan saya. Huihh pagi yang cerah. Kami dikumpulkan dulu, kami membereskan tenda dan barang-barang lainnya. Dan tidak lupa, kami diberikan baju green day. Sayangnya, saya dapet yang ukuran L. Duh, padahal saya ukurannya XL. Muat sih, cuman, jadi keliatan gendutnya ajah. Hehehe. :D. Setelah itu, kami berkumpul dilapangan. Kami sarapan bareng masyarakat. Setelah makan, kami beres-beres barang dan pungutin sampah. Itupun sambil menunggu truk menuju ke kampus.

Tersiksa di truk!

Setelah truk datang, kami dibagi menjadi 4 kelompok. Yah, posisinya masih sama waktu pergi. Sesampainya ditruk, saya bingung, mau duduk dimana. Hwah. Karena ada yang mengidekan duduk dibawah ajah. Ya sudah, tanpa pikir panjang, saya langsung duduk. Yah, walaupun saya paling gak kuat kalau duduk dibawah. Jadi, inget waktu SMA. Pas duduk dibawah, huihh, kaki saya super sakit. Untungnya, saya masih bisa menahannya. Sayangnya, kasus ini beda lagi. Posisi saya duduk sangat tidak mengenakan. Yah, awalnya saya berpikir, “mungkin gak papa duduk dibawah”. Eh, setelah truk jalan, dan beberapa menit kemudian, kaki saya sudah mulai kesemutan. Kesemutan tersebut membuat saya tidak dapat menggerakan jempol kakiku. lalu, kesemutan tersebut menjalar ke seluruh tubuh. Padahal, hanya kaki saya yang terjepit dan merasakan kesemutan. Dan pada saat itu juga, saya mulai tak bisa mengatur nafas saya. Ditambah udara didalam truk kotor dan terjebak dalam kemacetan. Awalnya, tidak ada teman sya yang menyadari bahwa saya sudah tidak kuat dalam posisi tersebut. Akhirnya, michan menyadari bahwa saya sudah tidak kuat. Kupikir, saya bakalan mati. Pikirku 10-20 menit lagi tak ditolong saya bakalan mati. Untungnya, saya langsung diangkat dari posisi tersiksa tersebut. dan langsung duduk dikursi. diberi ruangan yang cukup untuk bernafas. dan diberi oxycan. Ohya, diingatkan lagi saya enggak asma. Untungnya, jalanan mulai lancar. udara mulai mengalir. dan akhirnya, saya sudah bisa sadar untuk menggerakkan kaki saya dan tangan saya. Sebenarnya gejala-gejala ini pernah terjadi waktu 17 agustus 2008 pas masa BIS 2008. Tapi, yang di BIS lebih parah. Hehehe. Sakitnya, sakit apa yah? 

Sambutan untuk 2008!

Sesampainya disana kami langsung menuju ke SC. Disana ada sambutan dari angkatan atas sampai swasta. Bla, bla, bla (singkat cerita). Kami menyanyikan lagu angkatan 2008 beberapa kali. Yah, setelah itu pulang deh.

OUTSCENE

~Cerita yang terlupakan tapi teringatkan~

Tutup telinga!

Pada saat dilapangan SPOT. Kami disuruh panitia untuk menutup telinga kami dengan tangan kami. Entah untuk apa. Yah, kalau saya sih ikut-ikut ajah. Dan kalau tidak salah dengar panitia berbicara sesuatu. Entahlah, tidak terlalu jelas. Dan ditambah saya tidak mempedulikan. Setelah membuka telinga, kami diberi maksud dari permainan tersebut. Maksud dari menutup telinga adalah kami mau mendengarkan mereka atau tidak. Disini, kejujuran kami dipergunakan. Kalau dengar, ya akuilah anda mendengarnya. Dan kalau tidak, ya akui juga anda tidak mendengar. Lalu panitia berbicara, “Jadi mahasiswa teknik sipil janganlah picik” (Nice quote). Maksudnya, adalah kalau mau mendengar, dengarkanlah. Jika tidak mau dengar, yah berbicaralah anda tidak mau mendengarnya. Masih bingung yah? Kalau bingung, berarti anda normal (bahasa saya belepotan). Jadi, jika ada suatu permasalahan didalam komunitas diketahui oleh individu. Janganlah, menghindar atau berpura-pura tidak tahu. Berlaku jujurlah. Mungkin itu yang bisa saya dapat dari perkataan tadi. Nice Quote!

Kok bicaranya kayak bukan mahasiswa ajah!

Didalam acara Poè Hèjo ada yang mengganjal pikiran saya. Yaitu ucapakan kasar yang terlontar dari panitia. Yah, ucapannya tidak bermaksud kasar. Akan tetapi, saya jadi ingat bahwa kami sedang dilingkungan orang. Apalagi ini desa. Dimana, kesopanan tuh ada. Ucapannya tuh seperti “**blog, **nyet”. Yah, kalau dikampus sih fine-fine ajah. Takutnya, pandangan orang-orang sana menganggap etika mahasiswa buruk. Solusinya, adalah tidak mengulangi kejadian seperti ini.

~THE END~

©2008 Taruma Sakti Megariansyah. Dilarang untuk mencetak tulisan ini dengan alasan apapun dan menyebarkannya dengan alasan apapun.