Jurnal Taruma

mengingat pengetahuan dan pengalaman itu penting

#0658: Don’t Starve Review

Don't Starve

Don’t Starve

Y. APDG: DON’T STARVE

Genre: Adventure, Indie, Simulation

Developer: Klei Entertainment

Release Date: 23 April 2013

Price: $14.99

Buy on [Steam] or [Humble Store]

Hari ini saya memainkan lagi game berjudul Don’t Starve yang sempat closed beta bagi yang sudah pre-order. Saya sudah tidak memainkan game ini sejak februari lalu, jadi saya tidak mengikuti update dan perubahan yang terjadi. Saat saya memainkan game ini kembali saya sempat kaget dan kebingungan untuk memainkannya karena berbeda sekali dengan pada saat beta dulu. Waktu dulu saya masih memerlukan semacam research points untuk bisa membuat semacam prototype, sekarang sudah tidak perlu. Dan di game yang sepenuhnya rilis ini sudah menyertakan berbagai monster dan fitur baru (semacam worm hole).

Gameplay: Bisa dibilang gameplay game ini mengingatkan saya pada Terraria (Saya tidak memainkan Minecraft sayangnya). Inti permainan disini adalah bagaimana pemain untuk bertahan selamanya di pulau tak berpenghuni. Bagi saya yang menarik adalah fitur tambahan semacam insanity (kewarasan?), hal ini semakin game ini menarik karena saat dibawah, mulailah suasana mencekam muncul. Untuk bertahan hidup, pemain harus mencoba memungut atau mengumpulkan berbagai material yang dapat diolah sebagai senjata, makanan, dlsb. Seperti terraria bukan? Dulu waktu beta, untuk meng-crafting sesuatu yang baru diperlukan poin, sedangkan untuk versi sekarang sudah tidak diperlukan, hal ini memudahkan pemain untuk mempercepat progress permainan dengan menghindari pekerjaan membosankan yang hanya untuk mengumpulkan nilai research points. Untuk controlnya, bisa dibilang sangat sederhana, WASD untuk bergerak (bisa juga menggunakan mouse), klik kanan untuk aksi, tidak perlu puluhan menit untuk menguasai control didalam game ini.

Visual Art: Ini yang membuat Don’t Starve menarik yaitu visual art yang bisa dibilang unik. Meski hanya bermodalkan dengan animasi dua dimensi, tapi pemain masih bisa menikmati sebetapa unik dan bagusnya art sederhana tersebut. Tiap karakter yang ada didalam game ini memiliki ciri khas tersendiri termasuk pada desain karakternya. Animasi atau pergerakan dari setiap karakter termasuk monster tidak terlihat kaku. Meski dua dimensi, game ini menerapkan sistem perspektif tiga dimensi (merubah sudut pandang pemain), bagi saya itu merupakan nilai lebih karena, untuk keberhasilan visual dua dimensi yang disertai perspektif tiga dimensi bisa dibilang relatif sulit.

Sound & Music: Musik didalam game ini relatif sedikit karena yang sering terdengar hanyalah pada saat di main menu. Sedangkan pada saat permainan dimulai sedikit musik (mungkin genrenya berbeda, ambient?). Yang perlu diacungi jempol adalah sound effectnya yang sangat mengubah suasana permainan. Sempat saya kaget hanya gara-gara pohon tumbuh besar, ataupun ayam yang muncul tiba-tiba dari semak-semak. Tak hanya itu, pada saat menjelang malam, efek suara menakutkan mulai terdengar, apalagi dengan kewarasan yang sangat rendah. Yang pasti suara dan musik dalam game ini sangat bagus karena dalam genre game ini yang memiliki lamanya permainan yang panjang membutuhkan suara dan musik yang mendukung.

Presentation: Cerita dalam game ini sebenarnya sederhana, anda ditinggal oleh seorang yang tua di tengah pulau. Saat itu, tugas anda hanya bertahan hidup dan mencari apa yang sebenernya terjadi, selama permainan berlangsung tidak ada cerita yang bisa dipetik, selain mengakhiri game dengan menamatkannya (yup, ada tamatnya). Tapi dengan minimnya informasi yang diberikan membuat game ini semakin menarik karena memaksa pemain untuk belajar dari kesalahan sebelumnya.

Verdict: Don’t Starve merupakan game yang dikembangkan secara serius dengan melibatkan saran dan kritik para pemain pada saat beta, kita perlu memberikan salut terhadap developer tersebut yang sudah memberikan kemudahan terhadap pemain untuk lebih menikmati gamenya. Bagi yang suka dengan survival dan mungkin sandbox, game ini sangat dianjurkan untuk dicoba. Tapi bagi pemain yang berharap pada cerita ataupun presentasi, game ini bisa dibilang akan membosankan karena tidak ada cerita yang bisa diikuti selama bergantinya hari selain memulai petualangan lebih jauh.

Berikut video Let’s Play saya:

Author: Taruma Megariansyah

Just an ordinary guy. =P

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,067 other followers