#0300: Goodbye, Gaming Community!

#0300: Goodbye, Gaming Community

Satu tahun yang lalu, saya memulai petualangan saya di dunia gaming. Petualangan saya dapat berupa bermain game (ya-eya-lah), berkomunikasi dengan gamer lainnya, serta berbelanja saat masa-masa sale. Tapi yang membuat petualangan gaming saya menarik adalah komunitasnya. Sebelum menyentuh bagaimana komunitas gaming di Indonesia, saya ingin menceritakan perjalanan saya di dunia gaming.

Semua diawali dengan rasa ketertarikan saya mempelajari dunia transaksi mata uang di dunia online. Tentu saja, tujuan saya tertarik bukan karena saya ingin melakukan tertarik. Semua ketertarikan itu hanya murni rasa penasaran saya mengenai dunia maya. —– loh kok malah ngomongin dunia transaksi online. LOL. Singkat cerita saya tahu paypal dan bagaimana menggunakannya.

Tahun 2011, Seperti hari-hari biasa lainnya, saya menghabiskan waktu dengan googling hal-hal yang gak penting seputar game, dan akhirnya saya membuka situs humblebundle.com (Humble Bundle #3). Dengan balance yang dimiliki, dengan rasa penasaran, saya ingin membeli game “asli”. Awalnya saya hanya mendownload game yang versi DRM-free, dan masih tidak tahu sama sekali apa itu “Steam”, meski di halaman download ada “redeem your key” (atau sejenisnya). Pada tahun tersebut, saya sedang bersemangat-semangatnya main game, karena saya sudah cukup bosan dengan hobi menulis musik dan movie-review. Tentu saya awali hobi baru saya (gaming) dengan memainkan kumpulan game bajakan dan game-game kecil. Pribadi, sejak awal saya lebih suka mini-game ketimbang game yang berukuran jumbo/besar. Tapi hobi memainkan game kecil itu sebenarnya dimulai sejak tahun 2010 (pernah buat review mini game di Indowebster soalnya).

Kakak saya, yang selalu menghabiskan di depan komputer dan “pacar khayalannya”, membeli Fable 3 versi Retail (GFWL). Waktu itu, kakak saya selalu sibuk/malas sehingga game asli tersebut belum pernah diinstall di komputernya. Akhirnya, saya saja yang menginstall gamenya dan memainkan gamenya. Dan memainkan game fable 3 adalah game “asli” yang pertama saya mainkan. Dengan penuh antusias saya menamatkan gamenya meski bisa dibilang membosankan (saya menghabiskan berjam-jam hanya karena untuk menumpuk uangnya). Biasanya, jika game itu sudah ditahap membosankan biasanya saya langsung meninggalkannya dan mencari game lain. Tapi ketika game itu “asli”, rasanya beda, seperti ada keharusan untuk memainkan gamenya sampai tamat.

Setelah merasakan game “asli”, saya ingin mencoba merasakan game lainnya dengan label original. Waktu itu, saya terpikir untuk membeli Dead Island (Yup, game pertama yang saya beli di Steam). Dengan bermodalkan uang lebaran lalu dan uang jajan, saya nekat membeli Dead Island, padahal waktu saat kakak saya berencana membeli Fable 3, saya sangat penasaran dengan co-op-nya Portal 2. Sayangnya saya tidak lebih memilih membeli Portal 2, karena saya sudah menamatkannya di versi bajakannya. Waktu itu Dead Island yang saya beli merupakan versi yang region-restricted (harus diaktivasi di area tertentu). Karena di library belum ada game, saya memberikan username dan password saya ke penjual. Kurang dari satu hari, game Dead Island sudah teraktivasi di akun saya. Untungnya, saat saya membeli Dead Island versi Steam, saya sudah memiliki versi bajakannya. Jadi, pada saat melakukan instalasi, instalasi langsung masuk ke folder steam.

Sayangnya, Dead Island belum saya tamatkan karena saya ketakutan untuk memainkannya sendirian. Hahaha. Pada tahun yang sama saya memberanikan diri untuk membeli Dungeon Defenders pada 1 minggu pertama game itu dirilis. Tidak ada pertimbangan khusus saat membeli game tersebut, yang pasti saya sangat menyesal membelinya setelah Developernya seenak-jidat merusak gameplay casualnya. Cerita saya mengenali steam sampai saya hobi membeli game gratis tidaklah berakhir disini, tapi berhubung saya sudah jenuh menulis pengalaman saya, lebih baik kita membicarakan hal yang lain.

Rasanya bosan bermain game tanpa ada interaksi sosial. Dengan rasa seperti itu saya mulai terjun ke dunia gaming community. Saya selalu teringat bahwa kaskus memiliki komunitas terbesar dan memiliki keragaman yang lebih banyak dibanding forum lain (dalam hal konten dan komunitas). Jadi, saya langsung mencari komunitas yang berbasis Steam, dan voila! saya menemukan thread KASKUS@STEAM. Saya sudah bergabung dan membaca thread tersebut dari part 1. Saya jarang melakukan interaksi disana karena saya (biasanya) diacuhkan, dan saya tidak aneh kok. Penggunaan dan gaya tata bahasa di Kaskus lebih dangkal dari percakapan biasa jika ingin dianggap, dan saya tidak mau menurunkan kemampuan saya berbahasa hanya karena thread tersebut. Yang, terkadang ada yang membalas saya, tentu saya selalu membalasnya. Jika ada yang bertanya, saya selalu berusaha menjawab terlepas dia baca atau tidak halaman pertama (baca:page one).

Di thread tersebut mempelajari banyak mengenai dunia interaksi sosial dalam dunia maya dan khususnya dunia gaming. Banyak yang bertindak senioritas, dan ada yang bersikap newbie. Awalnya saya mengabaikan orang-orang bodoh yang bersikap senioritas atau yang berucap kasar tapi akhir-akhir ini saya tidak menerimanya. Dengan munculnya DoTA 2 di Steam, akan diperkirakan bahwa banyak pengguna baru di Steam. Tentunya jika individu tersebut dari Kaskus, akan langsung mencari group yang berbasis Kaskus lalu berkunjung ke thread. Dari situlah muncullah pertanyaan dasar sekali mengenai Steam, seperti perihal lisensi, downloading, dan fitur lainnya. Halaman awal Kaskus@Thread memang memiliki konten perihal soal pertanyaan dasar tersebut. Tapi saya mewajari jika ada yang bertanya hal-hal dasar di Steam, karena halaman awalnya memang memiliki tata penulisan yang buruk (Copas dari post orang itu namanya pemalasan). Ditambah tidak ada upaya dari TS untuk memperbaiki hal-hal tersebut, dan tetap bertindak sesuka hatinya. Saya tidak akan mencoba menjelaskan kebodohan orang-orang tersebut disini. Yang pasti saya sudah menuliskan hal tersebut di tempat yang terpisah.

Komunitas yang saya masuki sudahlah tidak nyaman lagi, sudah mulai muncul orang-orang belagu yang menganggap sebagai “founder” komunitas, bahkan steam. Singkat cerita, saya meninggalkan komunitas bodoh tersebut karena orang-orang yang mempunyai kekuasaan diisi dengan otak yang dangkal dan sulit untuk berpikir kritis, bahkan diajak argumen pun seperti orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Untungnya, saya menemukan komunitas baru yang disebut ORIGAMI (Original Gamers Indonesia). Dimana komunitas tersebut lebih terbuka dan lebih baik dibandingkan komunitas kaskus gaming sebelumnya. Memang komunitas ini jauh lebih baik dari Kaskus Steam, tapi masih saja ada yang kurang. Saya ingin berdiskusi hal-hal kritis mengenai game, seperti arti dibalik mananya, dampak dari bermain, atau tema dibalik sosial (seperti subreddit truegaming). Dengan minat seperti itu saya akhirnya gabung dengan grup GameDevID.

Ternyata di GameDevID pun tidak ada topik seperti itu, yang saya lihat hanyalah orang promosi game-game mereka. Tapi yang paling jengkel bukanlah promosi, melainkan game yang dipromosikan itu tablet semua. Saya yang tidak memiliki tablet atau mobile (punya tapi itu bukan untuk main game) merasa jenuh melihat isi timeline dengan promosi game mobile atau perihal tentang game mobile lainnya. Jujur, saya melihat gaming di mobile itu murni untuk nyari uang dan bukan sebuah ekspresi dari game developer. Karena pada mobile lebih mengarah kemenarikan gameplay ketimbang arti dari game tersebut, dan game mobile itu lebih mengarah ke casual sehingga orang yang memainkan game itu memang murni untuk nyari uang (seperti saya lihat).

Setiap saya membuka topik mengenai PC Gaming pun sangat sedikit yang ikut berdiskusi, entah karena saya bukan siapa-siapa (bukan game developer) mungkin saja mereka malas untuk berdiskusi dengan saya. Yup, saya lihat lagi senioritas di group tersebut. “You can’t say it’s a bad game, if you’re not game developer”. Jujur, kalau saya lihat game, terlepas di platformnya, kebanyakan mengecewakan di mata saya. Ditambah lagi, di grup tersebut tidak ada yang bergabung dengan Steam, karena setiap saya membuat topik mengenai steam, sedikit yang respon bahkan tidak ada sama sekali. Saya pun ragu jika para game developer ini membeli game “asli”. Okelah untuk AAA Games dibajak karena budget yang diperlukan juga sedikit, tapi untuk game-game indie lainnya? Saya sudah hilang rasa menghargai jika para game developer ini tidak saling memberi ke game indie lainnya.

Yup, saya tahu bahwa tulisan ini bersifat menghakimi suatu komunitas, tapi itulah yang saya lihat dan saya rasakan. Ini merupakan opini. Dimana saya bisa salah. Tapi berdasarkan fakta yang saya lihat, saya merasa apa yang saya lihat seluruhnya sesuai dengan hipotesis saya.

TL;DR
Dengan gagalnya meraih diskusi kritis dan komunitas yang sesuai harapan (ORIGAMI, sebenarnya satu-satunya komunitas yang sesuai harapan) selama 1 tahun, akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri petualangan di dunia gaming. Ini bukan artinya saya berhenti main game, tapi saya sudah tidak akan memprioritaskan “komunitas” lagi. Diskusi yang ingin saya perdebatkan dan dikritisi pun sudah saya simpan di pikiran saya. Mungkin, tahun 2011-2012 bukanlah waktu yang tepat untuk mencari komunitas gaming yang kritis dan menarik di Indonesia. Mayoritas orang yang bergabung komunitas pun seperti casual player, dimana gaming itu memang untuk meluangkan waktu, lepas stress dan bukan masalah komunikasi dan nilai positif dibalik gamenya.

Tanpa tujuan mencari komunitas rasanya, gaming hanyalah seputar menghabiskan waktu di depan komputer. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan sampai jumpa lagi kepada Komunitas Gaming yang pernah saya ikuti. Dengan saya mulai menyibukkan diri dalam penyusunan skripsi, waktu untuk berbincang dan membangun komunitas pun saya batasi. Saya akan terus memainkan game favorit saya yaitu League of Legends, Guild Wars 2 atau indie game lainnya. :) Ini bukan akhir petualangan saya di dunia gaming, hanya saja saya mengambil waktu istirahat dan mengambil/melanjutkan hobi lainnya seperti menulis, komposisi musik, menggambar, dan belajar. :)

Sebenarnya banyak yang ingin saya tuliskan, tapi dengan 1520 kata akan membuat pembaca bosan. Hahaha.

Untuk para gamer di komunitas gaming yang pernah saya ikuti: “Sampai jumpa lagi! :D”

#0300: Goodbye, Gaming Community!

2 pemikiran pada “#0300: Goodbye, Gaming Community!

    1. Eh iyah, ISC kan satu-satunya tempat saya ngegalau kalau di chatroom.

      Duh, dah males nulisnya lagi, itu juga masih banyak komunitas lainnya yang mau diomongin, cuman males ajah. kepanjangan euy. :))

Komentar ditutup.