#0700: DreadOut (Demo) Review

Informasi dalam cara menilai bisa lihat [disini]

Don't Starve
DreadOut

Y. APDG: DreadOut

Semua orang mungkin sudah jengkel dengan film horror “gadungan” Indonesia, tapi bagaimana dengan game horror Indonesia. Saya jarang bahkan belum pernah menemukan game developer Indonesia yang berani sampai tahap penjualan internasional dan bukan sekedar proyek iseng sementara. Digital Happiness merupakan game developer pertama yang saya ketahui dalam mengambil langkah di Steam (Greenlight) dengan game yang bertema horror. Pribadi, saya bukan penikmat game horror tapi karena ini buatan Indonesia, saya penasaran juga bagaimana kualitasnya. Sebelumnya, saya sudah berkali-kali melihat beberapa playthrough dari berbagai orang memainkan game ini, jadi jangan harap saya bakal kaget. Yang ada bosen.

Genre: Indie, Survival Horror

Developer: Digital Happiness

Estimated Final Release Date: November 2013

Price: $14.99

Please Support on [Indiegogo] , $5;$15;$30;$50;$75;$150;$300;$500;$1000

Gameplay: Gameplaynya tidak jauh berbeda dengan game survival horror lainnya, yaitu seperti Amnesia ataupun Slender. Pemain ditelantarkan disuatu tempat dan harus mencari jalan pulangnya sendiri. Yang menarik dari game ini pengendaliannya yang cukup mudah. sejauh ini cuman tombol E dan WASD yang digunakan, tentunya disertai mouse. Tidak ada kesulitan untuk memulai permainan ini karena untuk pengendaliannya sangat sederhana dan mudah dimengerti. Ingat Fatal Frame? Sebuah game yang menjadikan kamera sebagai senjatanya? Tidak, ahhh. norak. j/k. Sejauh ini tidak ada gameplay lainnya selain memotret para hantu untuk menyingkir dari hadapan muka pemain. Mekanisme ini sudah dieksekusi oleh Fatal Frame, jadi mungkin anda bakal kebosanan jika lebih dari setengah jam klik kanan dan klik kiri hanya untuk memotret para hantu yang narsis.

Visual Art: Dalam visual tidak ada yang terlalu mengecewakan. Iyah benar, ada tekstur ataupun glitch yang mengganggu pemain saat berpetualang di DreadOut, tapi hal tersebut sebenarnya harus dimaklumi karena untuk meningkatkan kualitas tersebut perlu biaya yang tidak sedikit. Jadi, untuk visual art, saya wajari. Suasana Indonesianya kerasa dari toiletnya, gerobak tukang baso? haha. Saya bisa bilang, tim developer sukses membawa suasana baru yaitu Indonesia ke dalam game. Soal hantu, yang menarik hanya pas diakhir game doang, unik dan menyeramkan. yang diawal, yang muncul malah istri dari si topeng scream. lol.

Sound & Music: Nah, disini nih yang paling TOP. Sound effect dan music benar-benar membuat suasana lebih mencekam. Saya kasih salut untuk mereka yang sudah susah payah membuat sound effect dan musik. Didalam game horror model seperti ini, sound dan musik itu punya prioritas paling tinggi dibanding yang lain. Jadi, kerja bagus dari tim developer digital happiness soal sound dan musik. Bravo.

Presentation: Saya selalu mengira game horror hampir memiliki plot yang sama. Terdampar ditempat yang tidak jelas, tidak memiliki senjata apapun, dan selalu dihantui monster tidak jelas. Setidaknya, DreadOut berusaha mengukir game ini dengan cerita. Untuk ceritanya sendiri masih belum bisa dipastikan karena demonya terlalu singkat untuk bisa menyimpulkan presentasi apa yang akan diberikan dari tim developer. Tapi, sejauh ini, presentasi pada game ini tergolong biasa saja.

Verdict: DreadOut merupakan game horror buatan Indonesia yang bisa dibilang mampu bersaing dengan produk luar negeri. Saya berbicara tersebut hanya untuk menunjukkan posisi Indonesia dalam masalah game developing pada platform PC. Gamenya sendiri sukses membawa suasana horror dengan setting lokasi di Indonesia. Yang disayangkan adalah tidak adanya mekanisme permainan  yang baru saat ini ditambah kurangnya optimasi gamenya dalam hal teknis. Sejauh ini, game ini punya potensi menjadi game top seller dalam horror game (asal waktu rilisnya gak ketutup sama game baru sih). Bagi saya, game ini layak dibeli dan didukung.

Video Let’s Play DreadOut (Demo):

#0700: DreadOut (Demo) Review