#1582: The Fall of The Intellectual

Beberapa hari yang lalu saya meninggalkan salah satu komunitas gaming di Indonesia. Saya gak bisa bilang besar atau kecil, tapi melihat definisi mereka, komunitas itu besar (lebih dari 1000-2000 member). Alasan utama saya menutup buku dengan komunitas tersebut karena semakin lama saya membaca atau diam (silent-reader) semakin saya jengkel dan kesal melihat diskusi yang terjadi. Sebenarnya topik atau diskusi yang saya ingin bicarakan adalah bagaimana level intelektual diskusi yang terjadi di dunia maya versi Indonesia. Saya tidak perlu ambil contoh dari berbagai tempat, cukup salah satu saja bisa saya eksplorasi. Entah saya yang nyasar ke tempat yang salah atau memang ada degradasi dengan keutuhan dalam berdiskusi. Bagi yang membaca pos saya sejak dulu perihal komunitas gaming #0300, akan mengerti kenapa saya lebih baik memilih keluar daripada berdiam-diam disana dan membaca, dan mungkin menurunkan toleransi saya terhadap kedangkalan diskusi. 

Sudah lama ternyata saya mengikuti komunitas tersebut, dari konflik yang terjadi dengan komunitas rival  sampai sekarang. Hampir 2 tahun rasanya saya terjebak disana. Haha. Jadi apa yang terjadi dari pos #0300 yang awalnya saya punya harapan terhadap komunitas yang lebih baik menjadi sebaliknya. haha. Pada umumnya, alasannya adalah menurunnya kualitas pos dari hari ke hari. Dalam 1 minggu saja, saya sudah membaca pos dari yang misleading (ngaco) sampai ngajak kerusuhan. Dari sanksi yang tidak jelas (instant kick) sampai peraturan yang patut dipertanyakan.

Jangan harap diterima kalau gak tahu STEAM
Jangan harap diterima kalau gak tahu STEAM

Name is everything.

Saat saya ikut komunitas tersebut, tidak ada yang namanya perbedaan yang jelas antara bajakan dan original. Pada dasarnya, komunitas itu hanya kumpulan para gamer. Mayoritas membernya dari pengguna steam, tak aneh menggunakan kata “original” untuk komunitasnya. Tapi saya pikir jauh bahwa hanya dengan embel-embel kata original, semuanya jadi ketat terhadap menerima pemain gamer yang belum menggunakan produk asli. Sekarang? mau bergabung harus di interview. Interview yang saya dengar adalah menyeleksi gamer yang belum pernah menggunakan produk asli. Saat saya mendengar berita adanya interview saat join (terlepas maksudnya), saya kaget dengan tanda tanya besar “Untuk apa?”. Sejauh ini komunitas tersebut tidak ada yang namanya iklan di tempat umum, yang join komunitas tersebut tidak jauh dari informasi mulut ke mulut (ew/aw.. ). Bahkan tidak sedikit yang teriak “Wah ini grup ada kata original, harus asli semuanya, orangnya juga harus diseleksi punya barang asli ato kagak”. Yah, mungkin kedepannya gak usah pakai nama yang embel-embel yang tersurat.

I CAN DO EVERYTHING I WANT
I CAN DO EVERYTHING I WANT

Senioritas selalu ada di setiap komunitas.

Lucunya adalah komunitas tersebut terbentuk atau setidaknya ada yang pindah dari komunitas lain karena sikap senioritas. Sekarang, senioritas menjadi peran penting dalam beropini, membuat pos, bahkan jika kamu senior, kamu bebas dari sanksi yang ada. Komunitas mulai diuji bukan saat dibentuknya melainkan saat bertahan dari jangka panjang. Jika senioritas mempengaruhi diskusi yang ada, ada sesuatu yang salah dari sikap komunitasnya. Tidak sedikit saya melihat pernyataan “Kamu anak baru?” “Kamu baru datang, gak tahu sejarahnya komunitas ini” “Kamu dah lama gak nongol = Kamu gak tahu apa-apa” di komunitas tersebut. Saya berpikir, jika mereka sangat peduli dengan yang namanya pelajaran sejarah grup, kenapa gak dibikin saja catatan sejarah komunitasnya. Ada alasannya juga kenapa dokumen yang dulu saya buat untuk memecahkan komunitas lain tidak saya buka, karena sejarah komunitas lain gak ada positifnya dibawa ke tempat baru. Dengan adanya senioritas, tidak lagi yang namanya diskusi murni di komunitas tersebut. Banyak yang takut di tendang, atau di hina-hina karena “baru masuk” ataupun “baru nongol”.

Kerusuhan menjadi bumbu utama dalam berkomunitas
Kerusuhan menjadi bumbu utama dalam berkomunitas

Melaporkan pos bukanlah sesuatu tindakan yang dipuji. 

Saya masih ingat saat ada orang yang melaporkan suatu pos, kemudian di “witch-hunt” atau gaulnya, di cari dan siap-siap dipermalukan. Lucunya pos yang dilaporkan adalah pos dari admin atau bahasa yang cocok adalah pos dari “senior”. Secara teknis pos nya memang tidak jelas dengan konten yang dilampirkan. Bahkan si senior tersebut menakut-nakuti para pelapor. Ntah ditantangin berantem IRL atau ajak berantem koleksi game asli. Mungkin semenjak kasus itu tidak ada yang mau namanya melaporkan pos-pos yang melanggar peraturan. [OOT]/[Out of Topic] saja sudah menjadi topik di komunitas tersebut. Komunitas tersebut juga sudah kesannya bukan komunitas bersama, tapi fan-page para senior. Tak sedikit pos yang isinya pribadi dipos di grup dibandingkan wall sendiri. Tagging orang-orang dekat, saat orang lain ajak diskusi, meh, gak dianggep. Saya jadi bingung, kontennya diisi oleh orang-orang itu lagi. Dan karena mengabaikan pos yang melanggar peraturan, yah jadilah trend untuk bikin pos-pos dengan kualitas sampah, karena seniornya saja ikut nyampah. haha.

50G Chat Mode Activated
50G Chat Mode Activated

Chat mode, komentar #1 , membaca #100. 

Yang saya maksud dengan chat mode adalah mode berdiskusi dengan bertindak komentar ataupun pos layaknya berdiskusi di chatroom. Ketika satu baris/kalimat selesai, langsung enter. Ketika lihat berita bagus, copy-paste link 1 baris/kalimat langsung enter. Atau yang lebih konyol, baca judul saja, langsung sebar. haha. Waktu dulu rasanya, saat saya memulai diskusi, yang ikut komentar hanya sebagian orang yang tahu beritanya dan niat untuk ngobrol. Sekarang? orang yang gak niat bantu atau gak tahu saja ingin ikut hype di bagian komentar. Tak sedikit banyak role-play terjadi di kotak komentar. Rasanya sedikit yang menghargai yang namanya diskusi yang sedang terjadi, lagi serius atau on topic, tiba-tiba nongol orang dengan 1 kalimat yang bikin kacau diskusi. Kejadian komentar = sampah sudah sering. Makanya, saat komentar tidak dijadikan ajang interaksi sosial atau diskusi, otomatis beralih ke konten deskripsi setiap pos. Dan saat deskripsi setiap pos tidak mutu, yah semuanya jadi gak mutu. Belum lagi kebiasaan para member untuk berkomentar dulu baru membaca atau tidak membaca sama sekali tautan yang dilampirkan. Mengingatkan orangnya? uu.. takut, senior kk.

If you don’t like it, don’t buy it. 

Kalau kamu gak suka dengan komunitas, apa yang bisa dilakukan? ada 3, yaitu ikut berbaur dengan komunitas, memperbaiki komunitas, atau meninggalkan komunitas. Tiga-tiganya sudah saya pernah lakukan, dan karena saya sudah capek melihat standar pemikiran di komunitas tersebut untuk yang namanya merubah, memperbaiki, mengoreksi, opsi yang tersisa adalah meninggalkannya. Jika ada perbaikan atau perkembangan komunitas tersebut setelah saya meninggalkan, yah saya mungkin akan gabung lagi. Tapi entah deh, biasanya komunitas seperti itu tidak menerima orang yang blak-blakan (baca referensi: senioritas dan melapor). haha. Ada komunitas yang takut jika semua member diberi kemampuan atau kekuasaan yang sama, bakal ada kerusuhan. Jujur, kerusuhan itu akan selalu ada terlepas power yang ada. Jika kemampuan menilai dibatasi hanya untuk orang-orang tertentu akan merusak sinergi komunitas tersebut. Yang alhasil bunyi komunitasnya adalah “mengikuti perubahan” dibandingkan “menciptakan perubahan”.

Can confirm. THIS IS FANSPAGE!
Can confirm. THIS IS FANSPAGE!

Semakin sedikit orang yang mau diajak berdiskusi kritis. 

Ntah kenapa, semakin kesini semakin sedikit orang yang mau diajak berdiskusi. Diskusi yang saya maksud adalah rantaian pemikiran yang dituangkan untuk memperoleh informasi lebih mengenai topik yang sedang dibicarakan. Sekarang, sudah capek-capek menuangkan ide, dibalas dengan 1 baris yang tidak menyanggah ataupun nyambung dengan topiknya.  Ketika diajak kritis dikit langsung orang kembali dengan mode defensifnya. Pernyataan seperti “kamu baru” “kamu tidak tahu” “kamu bukan” “kamu keluar” …. dikeluarkan saat tameng digunakan.

 

Awas! Jadi target berikutnya!
Awas! Jadi target berikutnya!

Ujung-ujungnya…

Komunitas tersebut bisa saya bilang toxic (yeah. buzz word!). Ya, ya, ya, ada komunitas yang lebih buruk, tapi ini bukan lagi ajang kontes siapa yang lebih buruk atau tidak. Banyak alasan yang tidak saya jelaskan, bahkan banyak tulisan ini hanya sekedar rant/ocehan belaka. Tentu saja yang bisa saya bilang itu salah/keliru atau memang sesuai dengan pandangan saya. Mungkin nasibnya bakal menjadi komunitas aggregator berita, atau info jualan. Bukan komunitas sosial. Ucapan terakhir saya akan serupa dengan pos #0300 Goodbye, Gaming Community!

Cat: Banyak gaya tulisan yang ngaco, maklumi saja, saya sudah lama gak nulis beginian. haha.

#1582: The Fall of The Intellectual

Satu pemikiran pada “#1582: The Fall of The Intellectual

Komentar ditutup.