#4113: “plz use correct indo”

Tulisan ini sebelumnya sudah diterbitkan di medium/@taruma pada 17 Maret 2015. Untuk mengikuti tulisan saya selanjutnya, dan bisa berkomentar langsung, bisa ikuti ‘follow’ Medium saya. :)


 “plz use correct indo”

ketika sudah mahir berbahasa asing dianggap juga mahir berbahasa nasional


Malam tadi, seperti biasa, saya masuk ke dalam chatroom (tempat ngobrol dalam konteks di dunia maya) di suatu komunitas. Dan seperti biasanya juga saya hanya sebagai pengamat dan merespon jika ada pertanyaan ataupun topik yang saya anggap menarik untuk diobrolkan. Tak jarang saya melewati satu hari, satu malam di dalam chatroom tersebut tidak ikut serta dalam diskusi. Kebetulan tadi malam ada topik yang saya gemari dan informasi yang saya tahu, jadi saya ingin ikut memberikan informasi ataupun ikut serta dalam obrolan.

Topik yang tadi diangkat adalah seputar update (pembaharuan) baru Guild Wars 2 (Game MMORPG dari ArenaNet). Saya yang lagi antusias memainkan game ini tidak aneh melihat ada yang sedang ingin membicarakan update baru ini. Topik ini dimulai dengan memberikan link(tautan) ke catatan pembaharuan (patch notes). Kemudian muncul semacam gerutu dari seseorang karena ukuran dalam patch notes ini terlampau besar. “487MB knapp 44%”, “1106.8181…” tulisnya.

Singkat cerita, kebetulan saya lagi membuka reddit dan mengetahui informasi besarnya patch notes kali ini, yaitu sekitar (~)850 MB. Saya membalas, “sizenya dikira sebesar 850 MB”. Lalu dia membalas, “pls use correct indo :v”. Sekilas, saya bingung, apakah saya salah menggunakan bahasa asing di dalam 1 kalimat yang berisi mayoritas bahasa indonesia? Oh, oke, kalau memang begitu saya memang salah karena lebih baik semuanya berbahasa indonesia atau asing agar lebih memudahkan komunikasi (atau tepatnya membaca). Saya berusaha mengubah teguran tersebut menjadi lelucon dengan membalas “sy gak pake korek, pake pemantik api.”. Tiba-tiba saja dia merespon dengan “don’t use txting speak. this ain’t mobile device”. Saya langsung bingung saja. Sekedar mempermudah membayangkan alur chatroom bisa dilihat percakapannya dibawah ini:

Dia: 487MB knapp 44%
Dia: 1106.818181818 GB?

Saya: sizenya dikira sebesar 850 MB
Dia: pls use correct indo
Saya: sy gak pake korek, pake pemantik api.
Dia: don’t use txting speak
Dia: this ain’t mobile device

Saya bingung apa sih tujuan dia memberikan respon tersebut, membuka argumen? sekedar celoteh? atau memancing saya? Asumsi yang saya pegang adalah dia ingin menunjukkan superioritas dia mengenai bahasa (lucunya, dia berbahasa asing saja tidak lengkap ataupun mengikuti tata kalimat yang seharusnya) (asumsi lain adalah dia sengaja jadi orang brengsek dan bikin orang kesal dan membalas spam dia). Jadi, saya ingin membuat respon dia sebagai lelucon sebetapa bodohnya dia membawa topik berbahasa.

Isu pertama adalah kalimat yang saya tulis yaitu “sizenya dikira sebesar 850 MB”. Jika membicarakan penggunaan bahasa asing di antara bahasa yang berbeda sih, saya menerima saja keluhan dia. Tapi, jika dia sebenarnya mengeluhkan tata kalimat, yah menurut pribadi, kalimat yang saya tulis sudah memenuhi tata kalimat yang sesuai atau setidaknya bisa dimengerti. Jika saya mengubah istilah asing menjadi lokal, kalimatnya adalah “ukurannya dikira sebesar 850 MB”, seharusnya anda bisa langsung memahami apa yang saya tulis. Sayangnya, saya tidak menggunakan kata kerja “kira” dengan baik, yang sebaiknya “diperkirakan”. Kalimat yang saya tulis di dalam chatroom sebenarnya: “Ukurannya diperkirakan sebesar 850 MB”. Karena saya ingin memudahkan informasi tersebut ke komunitas yang isinya anak muda, yah saya menyederhanakan dan mengubah istilah yang lebih dikenal menjadi “Size-nya di-kira sebesar 850 MB”. Jika dia tidak mengerti saat saya menulis “… dikira sebesar …” memiliki makna yang serupa dengan “… diperkirakan sebesar …”, yah jangan dipelihara ketidaktahuan-nya saat membawa topik yang merasa anda tahu.


Isu kedua adalah saat dia membalas “don’t use txting speak” “this ain’t mobile device”. Saya merasakan sikap ignorant atau dungu dari sisi dia. Satu hal yang mudah diamati adalah saat dia memberikan teguran jangan “texting” (menulis dengan disingkat-singkat khalayak SMS) sedangkan dia menyingkat “texting” menjadi “txting”. “This ain’t mobile device”, memang benar, tapi ini merupakan dunia dimana komunikasi non-verbal menjadi primadonanya alat komunikasi. Menggunakan kebiasaan menulis di dunia virtual saat sms ke chatroom apa salahnya? Dua-duanya memiliki kecenderungan bahwa merespon singkat lebih disukai.

Saya memang bukan ahli dalam berbahasa inggris, hanya saja saya memiliki rasa aneh saat membaca “don’t use txting speak”. Secara harfiah, kita tidak berbicara tapi menulis, jadi saya cukup aneh saat membaca kata “texting” dan “speak” dalam satu frasa, mungkin yang tepat adalah “texting language” bukan “texting speak”. Saya bingung saja saat dia menggunakan ajakan diakhiri kata kerja. Saya sih merasa aneh, entah deh sama kalian.

“This ain’t mobile device”. Saya bingung, saat orang berkomunikasi non-verbal sangat diwajari jika melakukan penyederhanaan kalimat atau menyingkat kata untuk mempercepat pesan ataupun menghemat tempat. Penggunaan kata ataupun kalimat yang lengkap biasanya berlaku untuk lingkaran formal, entah dalam dunia kerja (bagian laporan ataupun pernyataan) maupun akademis. Jadi, ini memang bukan komunikasi yang biasa ada di telepon genggam, yang penting ini merupakan komunikasi non-verbal. Mengeluhkan orang menggunakan kalimat singkat ataupun formal di obrolan biasa sama konyolnya dengan mengeluhkan orang menggunakan celana pendek ataupun panjang ke warung depan rumah. Intinya, asalkan tujuannya tercapai yaitu komunikasi terjalin atau sampai ke warung tidak telanjang, gak ada yang peduli bagaimana kostumisasi yang kamu gunakan selama tujuannya tercapai.


Sebenarnya saya menggerutu karena dia mengeluhkan “pls use correct indo” saat dia tidak mampu menggunakan bahasa indonesia dengan baik, di obrolon ringan ataupun tidak. Saya ragu dia bisa membalas tulisan ini dengan bahasa indonesia disertai alur nalar yang dia tempuh saat membentuk argumen untuk menjelaskan pikiran dia. Akhir cerita, saya merasa karena dia bisa berbahasa asing (sebut saja dia memiliki latar belakang berlingkungan asing) tidak membuat anda pandai berbahasa nasional. Jika anda ingin mengoreksi saya di bahasa yang anda kuasai (misal inggris), silahkan saja, tapi jangan pernah mengoreksi bahasa nasional karena kamu mahir berbahasa asing. Kamu mempelajari bahasa asing bukan karena sudah pandai berbahasa nasional tapi kebutuhan ataupun tuntutan pekerjaan, komunikasi, ataupun sosial. Jangan kira saat kamu fasih berbahasa asing, seakan-akan kamu mahir berbahasa nasional terlepas sebenarnya bahasa nasional sudah diperkenalkan sejak kamu lahir.

Catatan: Saya tidak memiliki latar belakang khusus (akademis) dalam membahas aspek linguistik sih, tapi saya hanya mengalirkan keluhan ataupun celotehan (tak guna) di dalam media ini. Soalnya, konflik serupa sudah saya temui berkali-kali di dunia maya. Pribadi, bahasa indonesia itu sulit jika digunakan saat formal atau sikap serius (seperti tulisan ini). Mungkin karena (perasaan) kemahiran saya menulis dalam berbahasa indonesia, saya cukup malas mempelajari menulis dalam bahasa asing juga. Serius deh, kalau dipaksa menulis atau beropini dalam bahasa inggris (misalnya) kamu bisa ngelihat saya sebagai orang bego. haha.

#4113: “plz use correct indo”