#0079: Menjelajah Facebook: Pemberhentian Konvoi

Mari menjelajah Facebook lagi! Ada beberapa konten ataupun pos yang tidak saya tampilkan di blog saya meskipun perbincangan di Facebook itu selalu seru dan menjengkelkan (entah kenapa jengkel dianggap sesuatu yang menyenangkan). Beberapa hari yang lalu, ada berita lagi yang berkeliaran di facebook. Pasti yang sering berkeliaran di Facebook, sudah dengar berita ini. Cerita singkatnya, ada pemuda yang mencoba menghentikan (entah deh sukses atau gak) konvoi/rombongan/iring-iringan kendaraan motor gede (besar) karena konvoi tersebut menerobos lampu merah. Bagi yang hanya liat foto saja, jangan puas disitu saja, lihat videonya juga dong. hehe. :D Berbeda dengan opini publik (atau kebanyakan orang), saya bilang bahwa yang keliru adalah yang menghalangi konvoi tersebut.

Berdasarkan video, bisa dilihat sudah ada polisi lalu lintas yang bertugas dan cukup banyak (3-5) untuk melakukan koordinasi konvoi ini di perempatan tersebut. dilihat mereka (sebut A) ini dengan jelas menunjukkan ketidak-sukaannya karena para konvoi ini menerobos lampu merah (meneriakkan “lampu merah”, “tandanya pak”, “ini mengganggu” dlsbnya). Terlepas diskusi yang telah dilakukan oleh pesepeda dengan polisi (pesepeda mencoba meyakinkan bahwa konvoi ini mengganggu dan melanggar peraturan), sepertinya pesepeda tidak setuju. Polisi lalin tetap memberikan tanda untuk tetap melaju untuk konvoi. A dengan beraninya langsung memutus arus dengan berdiri didepan para konvoi tersebut.

Beberapa hal yang saya kagumi dan patut dicontoh adalah:

  1. Aksi spontan yang berani. Terkadang bertindak spontan dengan keberanian dan keyakinan (menurut kita benar) itu diperlukan di suatu saat.
  2. Berani menegakkan peraturan. Terkadang peraturan itu ada karena ada alasan. Sangat baik jika individu ini menurunkan sikap kedisiplinnya ke orang lain.

Beberapa hal yang jangan dilakukan/ditiru adalah:

  1. Menginterupsi operasi lalu-lintas yang dilaksanakan dan diawasi oleh Polisi setempat.
  2. Tidak melakukan pencarian informasi lebih lanjut. Disini bisa dilihat juga bahwa A sendiri kurang informasi mengenai maksud konvoi tersebut, kenapa konvoi diberi akses lebih utama.
  3. Berprasangka buruk. Ini yang jangan ditiru banget. Belum ada informasi lebih jelas, tapi sudah berani berbicara “Dibayar berapa?”. Saya yakin pada saat dia menghalangi konvoi tersebut, informasi tersebut terbentuk karena prasangkanya ataupun inisiatif sendiri. Setiap operasi polisi juga dibayar.
  4. Mengacuhkan polisi yang bertugas, serupa dengan yang pertama. Tapi jangan sekali-kali menganggu operasi polisi, karena jika sial, polisi bisa menuntut dan menghukum orang yang dengan sengaja dan sadar menganggu operasi polisi. Jadi polisi itu tidak mudah, dan yang bertugas menjadi polisi lalin juga pasti setidaknya mempelajari tentang rekayasa lalu lintas (kebetulan saya juga belajar).
  5. Peraturan jangan ditelan bulat-bulat. Undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah itu selalu berkembang dan berubah sesuai jaman, kepemimpinan, ataupun kebutuhan. Ada alasan teknis kenapa rombongan berjumlah besar selalu diberi akses lebih dahulu.
  6. Berwenang dan berhak. A bayar pajak bukan serta-merta memiliki properti jalan. Operasi lalu-lintas selalu diserahkan ke pihak yang berwenang, yaitu polisi. Orang biasa, bisa mengambil alih jika polisi tidak ada. Jika polisi terkait gak bener kerjanya, yah laporkan saja. Rekam. Tapi sejauh yang saya lihat polisi bekerja dengan biasa.
  7. Nekat. Jangan bahayakan diri disaat ada kendaraan bermotor dengan laju yang tinggi. Selain bisa mengakibatkan tabrakan, jika konvoi terhenti tiba-tiba, akan berdampak tabrakan berantai. Tertabrak disaat polisi hadir di lokasi, uhh, yang kena semprot semuanya. haha.

Saya bisa memahami kejengkelan A, karena konvoi itu ribut, dan menganggu (siapa sih yang gak suka kalau terganggu lalu lintasnya). Tapi, alasan polisi memberikan akses lebih dahulu karena ada aturan ataupun alasannya yang tentunya lebih buruk dampaknya jika tidak didahulukan.

Konvoi atau iring-iringan atau rombongan itu perlakuannya beda di dalam lalu-lintas. Tidak bisa diperlakukan seperti individual. Dan ini konvoi karena event tertentu (menjelang agustusan) dan acara tahunan. Dan sebenarnya A bisa melakukan keluhan formal melalui polisi ataupun panitia terkait. Terakhir saya baca beritanya, panitia juga memohon maaf dan berterima kasih atas tegurannya.

Untungnya, A gak kenapa-napa, duh kalau kenapa-napa, A gak punya posisi yang kuat selain dukungan masyarakat. Disisi hukum dan peraturan bisa mondar-mandir. Ujung2nya pasti panggil saksi ahli. haha.

TEKNIS DAN ANALOGI

Sedikit bicara teknisnya (saya bisa keliru, sedikit keliru, atau sepunuhnya salah. Pa/Bu dosen jangan semprot saya yah), konvoi atau rombongan tersebut bisa dibilang dengan volume yang besar (jumlah kendaraan). Kapasitas jalan tersebut bisa jadi tidak mampu menerima volume kumpulan moge. Oleh karena itu, rombongan selalu diberikan akses utama saat menghadapi traffic light. Ingat, lampu merah itu tidak universal waktunya, disesuaikan dengan kapasitas, volume kendaraan juga. Nah ini kan bisa jadi jalan tersebut jarang menerima volume tersebut, dengan diberikan jalan lebih dulu bisa mengurangi beban yang dapat diterima oleh jalan tersebut (baik ke jalan maupun ke kepadatan lalulintas). Jika tidak diberi jalan lebih dulu, yang ada pada lajur tersebut akan menimbulkan kemacetan karena akan berantai ke belakang.

Saya kasih analogi, ada sebuah sungai saluran (saya gak tau kisaran debit sungai, ampun pa!) dengan aliran yang sedang (mis. debit 10 m3/s) . Biasanya, ditahan per 20 menit, untuk air menggenang dan dialirkan ke daerah lain. Tiba tiba, aliran sungai tersebut menjadi sangat besar (misal menjadi 3 kali lipatnya = 30 m3/s), nah kalau ditahan per 20 menit, air bisa terlalu tinggi menggenang dan bisa menyebabkan daerah hulu menjadi banjir. Oleh karena itu, pada saat debit semakin besar dari rencana, diberi akses alir lebih dahulu agar daerah hulu tidak kebanjiran.

Yah setidaknya gambarannya seperti itu kenapa kalau rombongan sesuatu harus diberi akses terlebih dahulu, selain menghindari kemacetan, beban jalan yang diterima bisa berkurang dan biar makin awet. Terkait jalan di Indonesia bukan didesain untuk kendaraan bermotor seperti itu. haha.

Ingat, kamu tidak perlu setuju atau sependapat dengan saya. Saya bisa saja keliru. Saya hanya orang yang baru kelar studi teknik sipilnya. haha. Jadi, jangan anggap saya sebagai sumber utama. Selalu gunakan dosen ataupun para ahli untuk mendiskusikan masalah/berita/isu ini. Saya hanya mencoba memberikan pandangan lainnya. Saya sadar bahwa opini saya bisa tidak sepopuler yang tersebar di dunia maya. Tapi, kalau A berani bertindak dan bergerak sesuai apa yang dia percayai benar, YAHHH, saya juga tidak mau kalah dong.. Menurut saya dia keliru, dan tulisan ini menjelaskan kenapa hal tersebut keliru. Tulisan ini ditujukan untuk membentuk diskusi sehat, jadi jangan gunakan tulisan ini untuk membenarkan pribadi anda, ataupun orang lain. Gunakan bahasa sendiri untuk mengopinikan suara anda dan pikiran anda, tidak semua orang berpikiran serupa. ;) Saya yakin juga teman kuliah saya juga pasti ada yang tidak setuju. haha. Jangan melenceng saja arahnya, tujuannya untuk memperoleh kenyamanan berlalu-lintas! :D

Tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-70. :D Dan selamat ulang tahun untuk papa saya, kakak saya, saudara saya, teman saya, dan saya sendiri yang berulang tahun di bulan ini. Selamat Ulang Tahun.

Berikut tautan berita yang saya pilih atau saya anjurkan anda untuk membaca:

Penjelasan dari Divisi Humas Polri (Facebook)

Permohonan maaf, dan ucapan terima kasih dari Panitia (Detik)

Klarifikasi dari Polda DYI (CNN Indonesia)

#0079: Menjelajah Facebook: Pemberhentian Konvoi