#1741: Review: Battle of Surabaya

Bagi yang ingin mencari review Battle of Surabaya dengan isi yang positif, silahkan berhenti melanjutkan tulisan ini, dan mencari review di situs lainnya. Spoiler alert! Tambah info lagi, bagi yang belum pernah baca review film ala buatan saya: saya gak akan bahas sinopsis, siapa sutradaranya, siapa animatornya, dlsbnya. Saya akan langsung saja menilai film ini. Bagi yang penasaran film Battle of Surabaya itu apaan, dan ingin mendapatkan sekilas animasinya, bisa coba tonton trailer filmnya dibawah ini.


Narasi

  • Cerita tidak fokus pada tema utama yang ingin diangkat. Sepanjang film dimulai, pribadi saya tidak mengerti apa yang sebenarnya mau diangkat oleh film ini. Entah perjuangan si Musa menjadi kurir yang mengirimkan pesan dari satu tempat ke tempat lain, atau hanya sekedar ingin menceritakan suasana apa yang terjadi sebelum battle of surabaya, atau ingin membuat cerita drama yang memicu emosi dengan membunuh setiap karakter yang berkaitan dengan karakter utamanya (oopps, spoiler).
  • Dialognya terlalu memaksa biar menjadi bahan kutipan orang-orang di facebook. Saya jengkel melihat dialog yang terjadi, terlebih lagi saat karakter didalam adegan hanya satu atau dua orang. Dialog seperti sedang membaca tulisan yang diambil dari “1001 kutipan yang mengubah hidupmu”. Hal tersebut menjadi kaku dan tidak mengalir dengan karakter lain.
  • Buruknya pemilihan alur adegan dan kurangnya beberapa adegan penjelas. Bagi yang sudah menonton, saya yakin ada kesan yang timbul seperti “loh tiba-tiba ceritanya ini”, “kok kepotong”, dlsbnya. Hal tersebut membuat ceritanya memberi kesan amburadul dan acak-acakan. Dugaan saya ada juga kekurangan dibagian editing tapi di bagian alur cerita sendiri ada yang banyak kekurangan. Yang pasti, saya yakin, yang menonton film ini jika tidak mengeluh ceritanya acak-acakan, bilang ada yang kurang.
  • Pembangunan karakter tokoh yang sulit dirasakan. Selama diputar, film ingin memaksakan penonton untuk memberikan empati (dikenalkan karakter pembantu, dibunuh, berkorban, etc). Sayangnya, latar belakang karakternya sendiri kurang kuat agar kita bergabung menyatu dengan pikiran Musa. Yang saya rasakan, pemberian latar belakang beberapa karakter diberi agar mudah memberikan efek dramatis saat karakter tersebut “dihapus” di dalam film. Jiwa nasionalisnya juga kurang terekspresikan dari ucapan, dan latar belakang.

Masih banyak yang perlu diperbaiki dalam elemen narasi film BOS. Gambaran besar ceritanya mungkin sudah didapat, tapi karena kurangnya pencarian informasi dan penelitian, alhasil masih banyak kerusakan dalam bagian narasinya. Entah deh 3 tahun masa produksi itu, masa pembuatan/perbaikan naskah itu berapa lama.

Animasi dan Sinematografi

  • Mungkin salah satu kekuatan yang dimiliki dari film ini hanya dari bagian animasi. Animasi di film ini tergolong cukup baik. Dibilang jelek sih gak, dibilang bagus banget, yah gak juga. Bagi saya animasi di film ini termasuk dapat (layak) dinikmati. Untuk kualitas gambarnya sendiri saya tidak begitu bermasalah, saya masih bisa menikmatinya.
  • Kurangnya ekspresi wajah. Di beberapa adegan, saya merasa ada beberapa animasi wajah yang kurang dipoles, sehingga saya hanya melihat wajah kaku dengan sekedar mulut terbuka dan tertutup. Jika tidak diberi audio sama sekali, saya yakin penonton tidak akan tahu konteks ekspresi yang diberikan oleh karakter di film ini. Selain kurangnya ekspresi wajah, perubahan antara satu emosi ke emosi lain terkesan tidak mengalir.
  • Latar yang baik dan detail. Satu hal lagi yang saya sukai dari film ini adalah sebetapa baiknya ilustrasi latar filmnya. Maka dari itu, untuk beberapa adegan dengan memfokuskan latar ataupun lingkungan sekitarnya, film ini bisa dibilang sangat baik mengeksekusinya. Perpaduan antara animasi tangan dan 3d terekskusi dengan baik. Saya merasa ada perhatian khusus dalam ilustrasi lokasi.
  • Pemilihan sudut pandang yang baik. Tidak sedikit kita diberikan beberapa cuplikan adegan yang membuat “waw” atau setidaknya memberikan kesan “waaahh indahnya”. Saya kurang tahu untuk bahasa teknisnya, tapi untuk pengambilan gambar sangat baik. Sayangnya, konsistensi cara pengambilannya terlalu cepat dan memberi kesan tidak lancar. Sehingga banyak emosi adegan yang terganggu karena perubahan kameranya.

Saya merasa bahwa animasi di dalam film ini terkesan dibuat perbagian tanpa mengevaluasi kembali kelancaran ketika adegan tersebut digabungkan. Jadi setiap produksi di setiap adegan terlalu memaksakan untuk menjadi sinematik sehingga melupakan tujuan adegan tersebut. Saya bisa menikmati animasi film ini tanpa konteks sama sekali, karena animasinya memang bagus, terlebih lagi ilustrasi lingkungannya. Saya ingin deh mengambil gambar di animasi tersebut untuk wallpaper komputer saya. Sayangnya, elemen lainnya bikin saya lupa bahwa film ini ada bagusnya. haha.

Pengisi Suara

Dengan naskah yang begitu dan ekspresi terbatas, saya tidak begitu berharap banyak dampak pengisi suara berperan penting dalam film ini. Yang saya suka dari pengisi suara hanya suara narasi di awal film yang baik dan tentram rasanya. Dialog yang sederhana dan singkat tidak diimbangin dengan suara reaksinya. Seperti adegan tertembak, suara reaksinya tergolong biasa saja. Apalagi jika menggolongkan film ini sebagai film aksi, suara reaksinya lebih sedikit daripada saya harapkan. kurang “ergghhh”, “haaaa”, “yaaghh”, “argh”, drlnya.

Saya juga penasaran produksi yang mana dulu dibuat, animasi draft dulu atau suaranya dulu (atau berbarengan). Soalnya merasa ada yang tidak nyambung saja. Mungkin storyboardnya saja sudah kurang memberikan gambaran yang baik, jadi ada kecanggungan antara suara dan animasi. Terlebih lagi pengisi suara di film ini tidak merubah suara asli mereka berbicara, dan hal tersebut membuat karakter pengisi suara sendiri tidak cukup ekspresif saat berperan. Pribadi, overacting di voice acting bisa jadi lebih baik daripada mengikuti suara biasa saja. Tapi gak tau juga sih, sejauh mana aktor di film ini berusaha menampilkan karakter. Saya ngerasa sih, you can do better.

Editing

Kasar sekali! Banyak beberapa emosi di dalam film ini terganggu karena editingnya yang tidak mengalir. Bisa jadi editor kebingungan apa yang diedit karena resource animasinya juga sedikit. Ini bisa jadi bukan salah editor tapi melainkan kurangnya kesiapan jumlah produksi di animasinya sendiri.

Sound

Mengecewakan. Suaranya kresek-kresek di bagian musik. Tidak memiliki tema terencana dengan baik. Mixingnya yang kurang rapih. Dan terlalu berusaha memberikan semua adegan latar musik. Pribadi, ada beberapa adegan yang tidak memerlukan latar musik sama sekali, mungkin cukup memberikan sound effect untuk lingkungannya. Semisal pagi hari, mungkin bisa didengarkan suara hewan yang ada. Jika tidak ada, suara bising yang relevan di daerah tersebut. Di adegan emosional, jangan terlalu memaksakan harus ada latar musik. Saya sampai jengkel saat adegan sedih, langsung tiba-tiba ada latar musiknya. Saya sih bilang musik di film ini “overdo it”.


Kesimpulannya, film ini hanya bagus (atau baik) dari segi animasinya, tapi gagal di aspek lainnya. Narasi, suara, editing masih perlu diperbaiki lagi. Tapi yang paling utama adalah perbaikan narasinya. Narasi gagal, elemen lain bagus juga akan sia-sia. Penonton film pada umumnya hanya fokus ke bagian narasi. Film ini tidak saya rekomendasi ke siapapun (dengan penilaian 1 dari 5). Agar anda masih bisa menikmati film ini dengan nyaman dan tidak jengkel karena narasinya, siapkan saja headset dan setel musik yang relevan dengan gambar di layar Anda. Saya jamin, anda jauh lebih menikmatinya daripada mengikuti dialog ataupun musik dari filmnya.

#1741: Review: Battle of Surabaya